Keutamaan orang Kaya yang Bersyukur

hudacendekia.or.id | Yang dimaksud dengan Orang kaya yang bersyukur Yaitu orang yang memperoleh kekayaan dengan jalan yang benar dan mengalokasikannya sesuai yang diperintahkan Agama. Yakni orang yang menjalankan apa yang diperintahkan oleh Alloh dalam hal harta serta menunaikan hak-hak yang wajib dalam hal tersebut baik aktif maupun pasif, yaitu sebagai berikut:

  1. Memperolehnya dengan jalan yang dibenarkan oleh syariat yang selamat dari kecurangan, tipu daya , meminta-minta, dan mengarap-harap kekayaan orang lain.
  2. Memberikan hak hak kepada empunya, baik kepada keluarga maupun orang-orang yang berada di bawah tanggungannya dengan tidak berlebih-lebihan, sombong, dan kikir. Mengeluarkan zakat yang wajib dan bersedekah di jalan kebaikan, karena pada harta tersebut terdapat hak lain selain zakat.
  3. Membelanjakannya untuk hal-hal yang diperbolehkan syariat serta tidak menjadikannya sebagai sarana untuk melakukan apa-apa yang diharamkan. Karena, ada sebagian orang yang mencari harta dengan cara yang halal tetapi dia membelanjakannya untuk hal yang haram. Mudah-mudahan Alloh melindungi kita.

Alloh berfirman:

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى (٥) وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى (٦) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى (٧)

Maka barang siapa memberikan (hartanya di jalan Alloh) dan bertakwa, dan membenarkan (adanya pahala) yang terbaik (Surga) akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan).” (QS. Al-lail 5-7)

keutamaan orang kaya yang bersyukur

Alloh Ta’ala memberikan kabar gembira bagi orang yang memberikan apa yang diperintahkan oleh Alloh untuk dikeluarkan, bertakwa kepada Alloh dalam menjalankan perintah-Nya, membenarkan pemberian balasan atas hal tersebut, serta meyakini bahwa Allo hakan memberikan berkah kepadanya, menggantinya serta melapangkan baginya kebaikan yang akan mengantarkan dia ke surga yang luasnya sama dengan luas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.

Alloh berfirman:

وَسَيُجَنَّبُهَا الأتْقَى (١٧)الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّى (١٨) وَمَا لأحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَى     (١٩) إِلا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الأعْلَى (٢٠)وَلَسَوْفَ يَرْضَى (٢١)

Dan akan dijauhkan darinya (neraka) orang yang paling bertakwa, yang meninfakkan hartanya (di jalan Alloh) untuk membersihkan (dirinya), dan tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat padanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari kerindaan Rabbnya Yang mahatinggi. Dan niscaya kelak dia akan mendapat kesenangan (yang sempurna).” (QS. Al-Lail 17-21)

Ayat-ayat tadi turun berkenaan dengan Abu Bakar as-Shiddiq Radhiallohu’anhu. Beliau memerdekakan budak di Makkah. Kalau ada yang mengatakan, ‘ibrah itu karena keumuman lafazh dan bukan karena kekhusunan sebab, maka dapat ditegaskan bahwa memang benar demikian, tetapi Abu Bakar adalah umat terkemuka setelah Rasululloh Sholallohu’alaihi wa sallam, dan beliau adalah lebih dahulu dari mereka di dalam semua sifat terpuji tersebut. Beliau dikenal sebagai seorang yang jujur, bertakwa, bersih, pemurah, dermawan, serta tidak kikir dalam menginfakkan harta bendanya demi mentaati Alloh dan menolong Rasululloh Sholallohu’alaihi wa Sallam. Berapa banyak dirham dan dinar yang telah didermakan beliau demi mengharap keridhaan Alloh Yang Mahamulia? Padahal, tidak ada seorang pun berjasa atasnya yang harus dibalasnya.

Tetapi keutamaan dan kebaikan Abu Bakar Jauh di atas orang-orang terkemuka dan pemimpin seluruh kabilah. Oleh karena itu, Urwah bin Mas’ud, seorang tokoh Tsaqif pada perjanjian perdamaian Hudaibiyyah mengatakan: “Demi Alloh, kalau saja bukan karena kemurahanmu yang belum mampu aku balas, niscaya aku akan menjawabmu.”

Di dalam kitab Shahihain disebutkan bahwa Rasululloh Sholallohu’alaihi wa sallam bersabda:

Barangsiapa yang menyedekahkan sepasang hartanya di jalan Alloh, maka para penjaga Surga pun akan menyerunya: ‘Wahai hamba Alloh, ini adalah kebaikan.’”

Abu Bakar pernah berkata: “Wahai Rasululloh, tidak mengherankan orang yang dipanggil dari salah satunya, namun apakah ada orang yang dipanggil dari semuanya?” Beliau menjawabnya: “Ya, dan aku berharap engkau termasuk salah seorang dari mereka.”

Dan tidak diragukan lagi bahwa Abu Bakar Radhiallohu’anhu masuk ke dalamnya dan merupakan orang yang paling pantas masuk dalam keumumannya, karena lafazhnya adalah lafazh umum.

Alloh Ta’ala berfirman:

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Jika kamu menampakkan sedekah-sedekahmu, maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu dan Alloh akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahanmu. Dan Alloh Mahateliti apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah : 271)

Ayat di atas menunjukkan keutamaan menyembunyikan sedekah baik itu sedekah wajib maupun sedekah sunnah, karena yang demikian lebih jauh dari riya. Kecuali jika memperlihatkannya akan mendatangkan kemaslahaatan yang besar, misalnya agar orang-orang tergerak mengikuti sikap baiknya tersebut, sehingga perbuatannya menjadi lebih baik lagi dari sisi ini. Jadi barang siapa yang mengerjakan hal itu berarti telah tercapai olehnya berbagai kebaikan yang banyak, peninggian derajat, dan penghapusan berbagai macam dosa. Sunggu tidak ada sedikit pun dari amal kebaikan tersebut yang tersembunyi dari Alloh, dan Dia akan memberikan balasan atasnya.

Alloh Ta’ala juga berfirman:

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Alloh Maha Mengetahui.” (QS. Ali ‘Imron : 92)

Penafsiran hadits ini telah dipaparkan pada pembahasan sebelumnya: “Menginfakkan harta yang dicintai”

Rasululloh Sholallohu’alaihi wa sallam bersabda:

Dari Abdulloh bin Mas’ud Radhiallohu’anhu, dia bercerita, bahwa Rasululloh Sholallohu’alaihi wa sallam bersabda: “Tidak boleh ada kedengkian kecuali dalam dua hal, yaitu: orang yang dikaruniai harta oleh Alloh , lalu dia pergunakan untuk menegakkan kebenaran, dan orang yang diberi hikmah (ilmu) oleh Alloh, lalau dia mengamalkan dan mengerjakannya.” (Muttafaq ‘alaih)

Dalam hadits lain diceritakan tentang para shahabat yang Miskin mengadukan keadaan mereka kepada Rasululloh Sholallohu’alaihi wa sallam:

“Dari Abu Hurairah Radhiallohu’anhu bahwasanya kaum Muhajirin yang miskin pernah mendatangi Rasululloh Sholallohu’alaihi wa sallam seraya berkata: “Orang-orang kaya telah pergi meninggalkan kita dengna mebawa derajat yang tinggi dan kenikmatan abadi.”

Beliau bertanya: “Mengapa demikian?” Mereka pun menjawab: “Mereka mengerjakan sholat sama seperti kamu sholat, juga berpuasa sebagaimana kamu berpuasa, tetapi mereka bersedekah sedangkan kami tidak bersedekah, mereka juga bisa memerdekakan budak sedang kami tidak.”

Maka, Rasululloh Sholallohu’alaihi wa sallam bersabda: “Maukan kalian aku beri tahu tentang sesuatu yang dengannya kalian dapat mengerjar orang-orang yang telah mendahului kalian dan dengannya pula kalian akan dapat mendahului orang-orang setelah kalian. Dan tidak ada seorang pun yang lebih baik dari kalian terkecuali yang melakukan apa yang telah kalian lakukan?” Mereka pun menjawab: “Mau, wahai Rasululloh.”

Beliau menjawab: “Hendaklah kalian bertasbih, bertahmid, dan bertakbir setiap selesai sholat sebanyak tiga puluh tiga kali.” Kemudian beberapa orang Muhajirin yang miskin itukembali datang kepada Rasululloh Sholallohu’alaihi wa sallam serapa berucap: “Saudara-saudara kamu yang kaya mendengar apa yang telah kami kerjakan, hingga mereka pun mengerjakan hal yang sama, lantas bagaimana?”

Rasullulloh Sholallohu’alaihi wa sallam bersabda: “Yang demikian itu merupakan karunia Alloh yang diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki.” (Muttafaq ‘alaih. Dan lafaz hadits di atas adalah milik Muslim :595)

Artikel dengan judul “Keutamaan orang Kaya yang Bersyukur” ini dikutip dari buku terjemah syarah Kitab Riyadhusholihin karya  Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, dengan judul Asli Bahjatun Nazhirin Syarhu Riyadhish Shalihin diterjemahkan oleh Ust. M. Abdul Ghoffar E.M. Cetakan Tim Pustaka Imam Asy-Syafi’i.

Keutamaan orang Kaya yang Bersyukur
Tagged on:         

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *