Jl. Kapten Yusuf No. 61 Sukamantri, Tamansari, Bogor
0812-2441-6000
admin@hudacendekia.or.id

9 Cara Terbaik Menyambut Bulan Suci Ramadhan

"Amanah dan Membahagiakan"

9 Cara Terbaik Menyambut Bulan Suci Ramadhan

Tidak terasa kita sudah berada di penghujung bulan Sya’ban. Artinya, sebentar lagi kita akan segera memasuki bulan suci Ramadhan. Bulan yang penuh berkah, yang akan membawa rahmat, yang membuka pintu syurga dan menutup pintu neraka serta membelenggu seluruh syetan yang mengganggu hamba beribadah.

Besarnya keagungan Ramadhan tentu harus disambut dengan penuh bahagia dan suka cita. Perlu mempersiapkan diri sebaik mungkin agar Ramadhan bisa dilalui sesuai dengan harapan yang Allah Ta’ala inginkan. Namun pertanyaannya adalah bagaimana cara kita mempersiapkan diri untuk menyambut bulan mulia tersebut?

Berikut Sembilan cara terbaik yang ditulis oleh Syekh Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam salah satu risalahnya, Dzadu Shaim Ramadhan Fursatun Li Tarbiyah Wa Ta’lim, untuk memaksimalkan ramadhan sebaiknya kita memerhatikan poin-poin berikut ini:

  1. Bertobat dan kembali kepada petunjuk Allah

Sejatinya bertaubat diperlukan setiap saat. Sebab, siapa pun kita pasti tidak lepas dari kesalahan. Bertaubat sebelum memasuki bulan Ramadhan menunjukkan keseriusan kita dalam memuliakan bulan suci tersebut. Sehingga ketika memasuki bulan Ramadhan tidak ada lagi sekat-sekat yang bisa mengahalangi dirinya dari amal shaleh. Allah Ta’ala berfirman:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (An Nuur: 31)

  1. Berdoa agar disampaikan ke bulan Ramadhan; memohon agar bisa melaksanakan puasa dan shalat di malam harinya

Ramadhan adalah bulan keberkahan yang hanya diberikan kepada para hamba pilihan Allah Ta’ala. Tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan tersebut dengan baik. Karena itu, di antara kebiasaan para salaf adalah senantiasa berdoa memohon kepada Allah agar disampaikan kepada bulan Ramadhan serta diberika kekuatan untuk memaksimalkan ibadah di dalamnya. Bahkan, sebagian mereka ada yang berdoa enam bulan sebelum kedatangan bulan tersebut.

Mu’alla bin Al-Fadhl, salah satu ulama tabiu’ tabiin berkata, “Dulu para sahabat, selama enam bulan sebelum datang Ramadhan, mereka berdoa agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan. Kemudian, selama enam bulan sesudah ramadhan, mereka berdoa agar Allah menerima amal mereka selama bulan Ramadhan.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 264)

Diantara doa yang dicontohkan para salaf adalah apa yang diriwayatkan dari Yahya bin Abi Katsir:

اَللَّهُمَّ سَلِّمْنـِي إِلَى رَمَضَانَ وَسَلِّمْ لِـي رَمَضَانَ وَتَسَلَّمْهُ مِنِي مُتَقَبَّلاً

“Ya Allah, antarkanlah aku hingga sampai Ramadhan, dan antarkanlah Ramadhan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadhan.” (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 264)

  1. Bersegera untuk menganti puasa yang tertinggal

Salah satu kewajiban yang penting untuk diperhatikan sebelum memasuki Ramadhan adalah hutang puasa. Siapa pun yang memiliki tanggungan puasa yang belum terlunasi maka ia harus segera menyelesaikannya. Qadha tidak mesti dilakukan setelah bulan Ramadhan yaitu di bulan Syawal secara langsung. Namun boleh tunda sampai bulan Sya’ban, asalkan sebelum masuk Ramadhan berikutnya.

Diriwayatkan dari Dari Abu Salamah, beliau mengatakan bahwa ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,

كَانَ يَكُونُ عَلَىَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ ، فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِىَ إِلاَّ فِى شَعْبَانَ

“Aku masih memiliki utang puasa Ramadhan. Aku tidaklah mampu meng-qadhanya kecuali di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari-Muslim)

  1. Mempelajari hukum-hukum seputar Ramadhan

Ilmu merupakan modal utama dalam beramal. Tanpa  ilmu maka akan kehilangan petunjuk dalam beribadah. Efeknya, kalau dia semangat maka akan jatuh dalam kesesatan, atau bisa juga dia akan tertinggal, tidak bisa memperbanyak amal karena tidak mengetahuinya.

Umar bin ‘Abdul ‘Aziz berkata, “Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendatangkan kebaikan.”  (Al-Amru bil Ma’ruf, hal: 15)

  1. Mempersiapkan diri dengan amal-amal kebaikan

Memperbanyak amal merupakan salah satu bentuk keseriusan dalam memuliakan datangnya Ramadhan. Terutama pada bulan Sya’ban, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisinya dengan memperbanyak berpuasa di bulan ini sebagai persiapan menghadapi bulan Ramadhan.

Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhuma bahwasanya dia berkata, “Ya Rasulullah! Saya tidak pernah melihat engkau berpuasa dalam satu bulan di banding bulan-bulan lain seperti engkau berpuasa di bulan Sya’ban?” Beliau menjawab, “Itu adalah bulan yang banyak manusia melalaikannya, terletak antara bulan Rajab dan Ramadhan. Dia adalah bulan amalan-amalan di angkat menuju Rabb semesta alam. Dan saya suka jika amalanku diangkat dalam keadaan saya sedang berpuasa,” (HR. An-Nasa’i)

  1. Meninggalkan pengangguran dan berteman dengan orang-orang yang rajin

Selain mempersiapkan ilmu dan kemantapan jiwa, kita juga penting memerhatikan pengaruh lingkungan. Memilah-milih teman adalah salah satunya. Pengaruh teman yang baik sangat signifikan pada aktivitas hidup kita. banyak orang yang terjerumus ke dalam jurang kesesatan karena temannya. Demikian juga sebaliknya, banyak orang yang semangat dalam beramal disebabkan oleh tengannya juga. Maka sudah selayaknya kita memperbanyak teman-teman yang shaleh ketika memasuki bulan ramadhan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

  1. Meninggalkan segala bentuk perselisihan dan perpecahan

Perselisihan dan perpecahan merupakan salah satu faktor yang bisa merusak fokus kita dalam beramal. Ramadhan yang mulia tentu tidak pantas diisi dengan perbebatan-perbebatan yang berujung pada perpecahan. Terlebih dalam masalah perbedaan mazhab fikih, ia adalah sesuatu yang tidak layak untuk diperdebatkan. Sebab, masing-masing memiliki dasar dan pijakan yang dibenarkan.

Bahkan terhadap orang yang meninggalkan perdebatan yang tidak manfaat, walaupun posisinya benar, maka Rasulullah menjajikan baginya rumah di dalam syurga. Beliau bersabda, “Saya memberikan jaminan rumah di pinggiran surga bagi orang yang meningalkan perdebatan walaupun dia orang yang benar. Saya memberikan jaminan rumah di tengah surga bagi orang yang meningalkan kedustaan walaupun dia bercanda. Saya memberikan jaminan rumah di surga yang tinggi bagi orang yang membaguskan akhlaqnya.” (HR. Abu Dawud)

  1. Menjauhi amalan yang dapat menjadikan puasa terasa berat

Kesehatan fisik tidak kalah pentingnya daripada persiapan ilmu dan mental. Agar hari-hari di bulan puasa lebih maksimal untuk beribadah, perhatian kita terhadap kesehatan fisik tidak boleh diabaikan. Jangan sampai amal ibadah kita menurun gegara gangguan kesehatan. Dari itu, meninggalkan pekerjaan-pekerjaan berat yang bisa memberatkan aktivitas puasa merupakan keharusan yang mesti dilakukan.

Orang yang merugi adalah yang tidak menggunakan kesehatannya untuk kebaikan dan yang lebih rugi lagi tidak menjaga kesehatannya. Rasullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dua nikmat Allah yang di situ banyak orang merugi, yaitu nikmat kesehatan dan waktu luang,” (HR. Tirmidzi)

  1. Memerhatikan kemunculan hilal

Di antara waktu yang menjadi kebiasaan ulama salaf dalam memastikan bulan Ramadhan adalah mereka keluar pada tanggal 29 Sya’ban, saat menjelang matahari mulai terbenam untuk mengamati  munculnya hilal. Mereka keluar bersama dengan Qadhi negara. Apabila dapat melihat hilal maka mereka berpuasa. Namun jika tidak, mereka menyempurnakan bulan Sya’ban menjadi tiga puluh hari.

Dalam sebuah hadits hasan disebutkan, “Hitunglah (bilangan) bulan Sya’ban untuk (menentukan masuknya) bulan Ramadhan.” (HR. Tirmidzi)

Makna dari hadits tersebutadalah bersungguh-sungguhlah dalam memastikan akhir bulan Sya’ban dengan mencermati titik munculnya hilal. Hal ini dilakukan agar dapat melihat hilal Ramadhan dengan kemantapan hati yang kuat, sehingga itu tidak terlewatkan sedikit pun. (Tuhfatul Ahwadzi, 3/299)

Demikianlah beberapa cara terbaik yang dicontohkan para salaf dalam menyambut bulan Ramadhan. Semoga dengan memahami poin-poin tersebut, kita bisa menyongsong bulan suci Ramadhan dengan amal ibadah yang lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya.

https://www.kiblat.net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

WhatsApp chat