Peran Pendidikan dan Dakwah dalam Mewujudkan Masyarakat Islami

30 Jan

Peran Pendidikan dan Dakwah dalam Mewujudkan Masyarakat Islami

Pendidikan dan dakwah memang dua aspek yang saling berkaitan satu sama lain. Keduanya berperan penting untuk mencerdaskan kehidupan ummat, bahkan sejarah pun membuktikan bahwa masa kegemilangan Islam diraih dengan berkembangnya dakwah yang begitu pesat sehingga menyebar secara meluas ke seluruh dunia dan tentu di dalamnya pun terdapat usaha pentarbiyahan secara terus menerus yang mendidik umat kepada tauhidulloh yang pada akhirnya terwujudlah salah satu bentuk eksistensi nyata yang dihasilkan dari peradaban emas tersebut. Ya, masyarakat Islami ! Sebuah masyarakat yang menjadikan dakwah sebagai poros kehidupannya. Namun saat ini seakan semuanya surut dilanda badai kejahiliyahan yang tak lelah menggerus akidah kaum muslimin, disisi lain ada pula mereka yang hendak membangkitkan kembali gelora dakwah ini untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Sebenarnya hal apa yang luput dari pandangan kaum muslim sehingga pendidikan dan dakwah untuk mewujudkan masyarakat islami belum terealisasikan secara maksimal dan apa saja tantangan-tantangan dakwah yang menjadi penghalang untuk tegaknya misi mulia itu? Pada edisi kolom asatidz kali ini redaksi berkesempatan untuk berwawancara langsung dengan Ustadz. Muhammad Haidaril Iltizam Fatih, M.Pd.I Pemateri Tetap Radio Fajri FM mengenai hal tersebut. Untuk lebih jelasnya berikut petikan wawancaranya :

 

Ada yang mengatakan bahwa seorang Muslim harus menjadikan dakwah sebagai poros hidupnya, tanggapan ustadz?

Kita mengacu kepada firman Alloh Ta’ala dalam QS. Adz-Dzariat [51]: 56 (yang artinya), “Dan Aku (Alloh) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” Ayat ini menunjukan tujuan hidup manusia, dan tentunya untuk mewujudkan tujuan ini Alloh Ta’ala senatiasa mengawal kemurnian syariat-Nya berupa diutusnya para Nabi dan Rosul. Sebagimana firman-Nya pula yang diserukan oleh Alloh Ta’ala kepada kita kaum muslimin dalam QS. An-Nahl [16]: 125 (yang artinya) “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” 

Setelah menyampaikan tujuan kita untuk beribadah, Alloh Ta’ala juga menginformasikan kepada kita sebagai hamba-Nya di setiap kurun atau zaman, bahwa Alloh Ta’ala telah memerintahkan atau mengutus para Nabi dan Rosul agar menyeru manusia yang lainnya untuk berjalan di atas jalan Alloh Ta’ala. Kita juga ketahui bahwa Alloh Ta’ala telah memberikan suatu ketentuan yang membedakan antara satu muslim dengan muslim lainnya dalam hal siapa yang paling baik perkataannya. Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Fushilat [41]: 33 (yang artinya), “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah?” Ini merupakan kalimat retoris yang tidak butuh jawaban. Karena pada hakikatnya tidak akan pernah ada suatu perkataan yang lebih baik selain  perkataan dalam mengajak kepada kebenaran. Maka, inilah dakwah yang selaras dengan tujuan hidup manusia. Yakni, menyeru manusia untuk beribadah kepada Alloh Ta’ala  yang sekaligus merupakan poros kehidupan manusia.

Apa arti pentingnya pendidikan dan dakwah dalam mewujudkan masyarakat  Islami?

Arti penting pendidikan dan dakwah sebagaimana yang kita singgung di atas bahwa Alloh Ta’ala berfirman dalam QS. Fushilat [41]: 33 (yang artinya), “Siapakah yang lebih baik ucapannya dibandingkan orang yang menyeru kepada Alloh?”

Seorang imam yang terkenal, Imam Asy-Syaukani Rohimahulloh mengomentari ayat ini dengan ucapan beliau, “Tidak ada yang lebih baik daripada dakwah dan tidak ada yang lebih jelas menjanjikan metode dan cara kepada manusia untuk merubah suatu keadaan lebih baik kecuali hal itu (dakwah).”

Selain dakwah kepada Alloh Ta’ala ini menjelaskan kepada kita bahwa ketika menginginkan perubahan, maka sebagaimana telah kita ketahui sebelumnya bahwa para Nabi dan Rosul membawa suatu misi agung, yaitu misi dakwah dan diantara bentuk dakwah adalah pendidikan. Sebagaimana yang telah Alloh Ta’ala gambarkan, bahwa Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam diutus untuk mendidik manusia, menta’lim atau mentarbiyah, dan mentazkiah agar manusia yang keadaan sebelumnya jahiliyyah menjadi islami, yang tadinya bodoh menjadi alim dan juga merubah keterpurukan menuju kebangkitan.

Apa parameter yang menentukan suatu wilayah bisa dikatakan masyarakatnya Islami atau tidak?

Yang menjadikan parameter masyarakat Islami atau non Islami di suatu wilayah adalah apakah masyarakat itu dibimbing, dinaungi dan dituntun oleh norma-norma Alloh Ta’ala ataukah tidak?

Ketika suatu masyarakat yang terdiri dari satuan-satuan individu dan kelompok mereka dituntun, dibimbing dan diatur oleh norma-norma Alloh Ta’ala yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Sunnah secara kaffah (menyeluruh) maka inilah yang disebut dengan masyarakat Islami.

Adapun masyarakat yang tidak dinaungi oleh norma-norma Islam yang tidak terkandung di dalamnya Al-Qur’an dan Sunnah maka mereka bukanlah masyarakat Islami, terlepas mereka itu mayoritasnya muslim atau mayoritasnya kafir. Maka, yang menjadi acuan disini adalah hukum apa yang menaungi dan menuntun masyarakat tersebut.

Apa saja tantangan-tantangan dakwah yang menjadikan masyarakat Islami sampai saat ini belum sepenuhnya terwujud?

Beberapa faktor yang menyebabkan kemunduran atau belum juga terwujudnya kebangkitan umat menuju masyarakat Islami yakni umat yang berada di bawah naungan Khilafah Islam ‘ala Minhaj An-Nubuwwah, secara garis besar ada dua faktor yakni faktor internal dan eksternal. Dan faktor yang paling dominan diantara faktor-faktor yang lain secara internal adalah faktor kebodohan, yang mana dari kebodohan ini menimbulkan faktor yang banyak sekali. Mulai dari terjadinya penyimpangan-penyimpangan dan mudahnya musuh-musuh Islam menguasai kita, sampai faktor lain seperti kerakusan dari pemimpin kaum muslimin.

Kemudian faktor yang kedua yakni faktor eksternal. Hal ini sebagaimana kita ketahui bahwasanya permusuhan Iblis dan manusia sudah diproklamirkan semenjak diciptakannya Adam Alaihissalam hingga mereka pun telah merealisasikan permusuhan tersebut terhadap manusia. Setelah manusia diturunkan ke bumi Iblis memanfaatkan para pembangkang dari kalangan manusia itu sendiri dan para pembangkang dari kalangan jin agar senantiasa menjauhkan kita dari penerapan hukum Alloh Ta’ala. Hal ini semata-mata karena orang kafir  tidak akan pernah ridho sampai kita masuk millah mereka.

Bagamana caranya agar kita bisa menjalani aktivitas dakwah namun tak melupakan aspek keduniaan?

Alloh Ta’ala telah memberikan tuntunan kepada kita agar mengejar akhirat. Tapi bukan berarti kita harus meninggalkan dunia. Namun yang benar adalah hidup ini harus senantiasa berada dalam keseimbangan antara mengambil akhirat dan mengambil bagian dari dunia.

Akan tetapi karena kita telah ketahui bahwa akhirat itu lebih utama, tentu kita harus tetap lebih mengutamakan kehidupan akhirat dibanding kehidupan dunia tanpa harus sama sekali melupakan kehidupan dunia yang ketika kita lihat seakan-akan ada pemisah di antara mereka yang mengejar akhirat dan mereka yang mengejar dunia.

Padahal antara dakwah dan dunia bukan berarti harus dipisahkan. Tapi yang tepat adalah harus diselaraskan agar kita senantiasa mendapatkan hidup yang hasanah bagi dunia dan akhirat. Kita juga senatiasa meminta kepada Alloh Ta’ala agar kita diberi kebaikan sebagaimana yang telah Alloh Ta’ala ajarkan.

Maka disinilah kita harus harus cerdas dan mampu menempatkan posisi kita antara meraih kemulian Alloh Ta’ala dan meraih kehidupan yang cukup di dunia. Dan tentunya yang mendasari ini semua adalah ilmu, yakni kemapuan kita untuk membedakan mana yang lebih utama dan mana yang kurang utama. Ini akan membuat kita senantiasa berada di dalam jalur yang telah Alloh Ta’ala  tentukan. Maka sudah seharusnya bagi kita sebagai seorang muslim dan mukmin sejati untuk senantiasa menuntut ilmu, berbuat dengan amal kebaikan, berdakwah, dan bersabar untuk menjalani semuanya. [Red]

ByHuda Cendekia

Lembaga Penerima dan Penyalur Dana Zakat, Wakaf, Infaq dan Sodaqoh (ZISWAF)