Kisah Ulbah bin Zaid yang Tak Mampu Sedekah

Teringat kisah seorang sahabat miskin yaitu Ulbah bin Zaid r.a sahabatfaqir yang dermawan. Dikisahkan menjelang perang tabuk (melawan bangsa romawi) Rosululloh tengah menghimpun pasukan dengan syarat, yang akan ikut berperang hanyalah orang-orang yang memiliki tunggangan serta beliaupun menghimpun sedekah dari seluruh umat muslim, maka seluruh ummat muslim kala itu berbondong-bondong mendatangi Rosululloh untuk mendaftar berjihad dan bersedekah untuk kebutuhan perang. Karena Perang kali ini sangat membutuhkan biaya yang besar dikarenakan jarak yang jauh serta kekuatan besar yang akan dihadapi. .

Kisah Sahabat Fakir Ulbah bin Zaid yang Tak Mampu Sedekah

rintihan Sahabat Ulbah bin zaid yang Tak mampu bersedekah

Maka ditengah kesibukan kaum muslimin disudut kermaian tersebut meneteslah airmata Ulbah bin Zaid r.a, hatinya yang menggebu untuk menyambut surga dengan berjihad, pupus ditelan oleh kefakiran yang tengah ia hadapi. Ia hanyalah sesosok sahabat penuh harap ridho Allah yang tak punya apa-apa.

Dengan nasihat yang penuh cinta setelah usai shalat Rosululloh memberikan kabar gembira, bahwa bagi kaum muslimin yang ikut berjihad dan membantu persiapan jihad Allah jaminkan surga bagi mereka.

Maka semakin deraslah mengalir air mata Ulbah yang sempat terbendung, sambil menyaksikan sumringahnya sahabat yang lain saat mendermakan hartanya, langkahnya mulai terseok dalam tangis menuju rumah kumuh tempat ia meratap.

Iapun pulang dalam dengan tatapan hampa, pintu surga yang terbuka lebar didepan mata tak mampu sedikitpun ia sapa, tenggelamlah ia dalam penyesalan.

Tidak ada yang dapat mengobati tangisan Ulbah, airmata yang mengalir membuatnya tak mampu memejam mata tuk melewati gulita. Iapun lekas mengambil wudhu dan melaksanakan shalat.

Gemuruh penyesalan atas ketidak mampuan mengaum dihatinya, berderu menyisakan rintik air mata di balik sujudnya. Hingga shalat usai ia tumpahkan segalanya dihadapan Allah yang maha kuasa. Kala tangannya menengadah kepada Allah Rab semesta alam, Ulbah yang merasa kerdil berdo’a.

“Ya Allah, Engkau memerintahkan berjihad, sedangkan Engkau tidak memberikan aku sesuatu yang dapat aku bawa berjihad bersama RasulMu dan Engkau tidak memberikan di tangan RasulMu sesuatu yang dapat membawaku berangkat. Maka saksikanlah bahwa sesungguhnya aku telah bersedekah kepada setiap muslim dari semua perbuatan dzolim mereka terhadapku dari perkara harta, raga dan kehormatan.”

“Ya Allah, tidak ada yang dapat aku infakkan sebagaimana yang lainnya telah berinfaq. Seandainya aku memiliki seperti yang mereka punya, aku akan lakukan untukMu, demi jihad di jalanMu. Yang aku punya hanyalah kehormatan, kalau Engkau rela menerimanya, maka saksikanlah bahwa semua kehormatanku telah aku sedekahkan untukMu malam ini..”

Berulang-ulang ia panjatkan doanya, menyerahkan segala kehormatannya kepada Allah semata hingga Fajar tiba.

Berkumandanglah adzan subuh, Ulbah bin zaid tak pernah menyangka Do’anya akan begitu saja diterima oleh Allah ta’ala, ia tak menyangka ditengah malam malaikat-malaikat menyaksikan setiap tetes airmata yang jatuh basahi tempat sujudnya, ia tak pernah menyangka bisikan-bisikan do’anya akan sampai kepada sosok mulia Rosululloh Muhammada Salalallahu ‘alaihi wassalam melalui malaikat jibril.

Subuh itu para sahabat berkumpul setelah shalat usai, seperti biasa setiap mata tertuju kepada sosok mulia Muhammad SAW, menantikan apa yang akan dikatakannya. Tak lama tiba-tiba Roslullah betanya kepada para sahabat. “Siapa yang tadi malam bersedekah? Hendaklah ia berdiri!”

Hening, tak ada yang berdiri, tak ada yang merasa sedekah malam tadi, begitupun dengan Ulbah, hingga akhirnya Rosulullah berjalan mendekatai Ulbah semua mata tertuju padanya, lalu beliau bersabda “Bergembiralah wahai Ulbah, Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, sesungguhnya  sedekahmu tadi malam telah ditetapkan sebagai sedekah yang diterima.”

Dunia itu untuk 4 jenis hamba: Yang pertama, hamba yang diberikan rizqi oleh Allah serta kepahaman terhadap ilmu agama. Ia bertaqwa kepada Allah dalam menggunakan hartanya dan ia gunakan untuk menyambung silaturahim. Dan ia menyadari terdapat hak Allah pada hartanya. Maka inilah kedudukan hamba yang paling baik… (HR. Tirmidzi, no.2325, ia berkata: “Hasan shahih”)

Kedermawanan adalah salah satu sifat khas yang biasa ada pada diri seorang Muslim yang benar-benar beriman kepada Allah, karena tentu tidak akan ada seorang muslim yang ingin dengan sengaja menyia-nyiakan kesempatan untuk berbagi, memberi, menolong dengan menyedekahkan sebagian hartanya.

Bahkan tidak sedikit umat muslim yang senantiasa menangis kepada Allah karena belum diberi kesempatan untuk bersedekah dijalan-Nya dikarenakan keterbatasan ekonomi.

Tidak ada yang tau harta apa yang telah Ulbah bin zaid sedekahkan dijalan Allah hingga secara khusus Rosulullah menyebutkannya ditengah-tengah para sahabat mulia yang lain.

Ikhwah fillah, selalu ada jalan bagi kita untuk bersedekah, selalu ada yang kita miliki untuk kita sedekahkan dijalan Allah, berjuanglah untuk bersedekah bersegeralah untuk berinfak, karena tidak semua orang memiliki harta yang dapat disedekahkan dijalan Allah.

Wira al-Ghoruty

Kisah Ulbah bin Zaid yang Tak Mampu Sedekah
Tagged on: