BIAYA OPERASI UNTUK ADIK BILAL

Letih seoranga ayah bukanlah sebuah keletihan lagi ketika melihat anak-anaknya tersenyum bahagia, seorang ayah mampu menahan lapar demi terisinya perut sang buah hati, rela jatuh bangun, menguras segala keringat untuk menafkahi darah dagingnya.

Maka ketika sang buah hati tetiba mengalami musibah, runtuhlah bahagia dalam dirinya. Tak ada pelipur selain kesehatan dan senyuman sang anak tercinta.

Jum’at 17 November 2017, Helmi Abdul Rozak begitu ia biasa dipanggil. seorang pria  dengan sepucuk surat yang hari itu singgah di kantor kami Yayasan Huda Cendekia, ia mengajukan permohonan bantuan dana untuk operasi buah hatinya yang bernama “Bilal Abdan Syakur“.

Bantuan Pengobatan Adik Bilan | Huda Cendekia

Ada secarik photo menempel di pojok surat itu, potret senyum bahagia seorang ayah yang sedang menggendong buah hati tercintanya.

Benarlah kasih orang tua tak pernah pudar pada anaknya, Helmi bercerita ia sudah tidak punya apa-apa lagi selain utang yang mulai menumpuk saat melakukan operasi kali pertama untuk kesembuhan sang buah hati yang mengalami kecacatan pada bagian rongga mulutnya, dan sayangnya pengorbanan untuk operasi itu masih belum cukup untuk kesembuhan sang buah hati.

Operasi lanjutan adalah satu-satunya solusi untuk kesembuhan itu, Perjuangan sudah maximal pergi kesana kemari untuk meminjam secercah bantuan, namun masih belum ada yang percaya untuk meminjaminya piutang karena tahu keadaan ia sekarang tengah dililit banyak utang. Itulah alasan Helmi singgah ke kantor kami. Helmi mengaku mendapat informasi tentang Yayasan Huda Cendekia dari bapak Valentino Dinsi Seorang pengusaha muslim.

Alhamdulillah segala puji hanya milik Allah apa yang bapak Helmi harapkan dapat kami cukupi dengan bantuan para donatur yang telah menitipkan hartanya kepada kami, sungguh inilah kebahagiaan sejati, saat kami mampu merangkai bahagia dan senyum hakiki dari saudara-saudara kita yang tertimpa musibah saat ini.

Semoga Allah memberikan kesembuhan kepada Anak kita Bilal Abdan Syakur, semoga Allah jadikan ia seorang anak yang shaleh berbakti untuk agama , bangsa dan negara, Semoga Allah memberikan kebahagiaan kepada keluarganya ketabahan kepada ayahnya, dan semoga Allah limpahkan keberkahan serta pertolongan kepada kita semua untuk tetap istiqomah dalam memperjuangkan kebenaran, serta tuk senantiasa amanah dan membahagiakan. [AW]

IKUTI BARISAN DAKWAH TERSERET MENUJU JANNAH

Tak ada sedikitpun dalam diri kita yang Allah butuhkan, cinta kita atau takut kita kepada-Nya sama sekali tak berpengaruh akan kemahakuasaan dan kesempurnaan-Nya begitupun dengan taqwa dan iman kita kepada-Nya bukanlah suatu kebutuhan bagi-Nya, melainkan itu semua adalah kebutuhan kita sebagai seorang hamba, Allah berfirman:

وَلَوْ أَنَّهُمْ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَمَثُوبَةٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ خَيْرٌ ۖ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Sesungguhnya kalau mereka beriman dan bertakwa, (niscaya mereka akan mendapat pahala), dan sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui. | QS. Al-Bawarah : 103

Begitupun dalam dakwah, Ada atau tidaknya kita dalam putaran roda dakwah, Islam akan tetap ada dan kelak akan kembali pada masa kejayaannya seperti sediakala. Sedikitpun Islam tidak butuh dengan kekuatan kita, ada Allah yang senantiasa menjaganya, sebaliknya kitalah yang sangat butuh akan hal itu, sangat butuh bagi kita untuk berada dibarisan dakwah semoga dengannya Allah mengikutkan kita kelak menuju jannah bersama mereka para pejuang dakwah lillah.

ketahuilah saudaraku, dakwah bukanlah tugas seorang ‘alim ulama saja, Allah membuka pintu dakwah seluas-luasnya untuk semua orang beriman dengan lisannya, dengan tenaganya, dengan hartanya, dengan ide-idenya.

Dakwah bukan berarti berdiri di atas mimbar kemudian berceramah dari mesjid ke mesjid. Banyak sekali aspek dakwah yang bisa kita lakukan dengan segala keterbatasan kita. Rosulullah bersabda :

بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً

“Sampaikan dariku walau satu ayat” | HR. Bukhari

Hadist di atas adalah, penyemangat bagi setiap muslim untuk senantiasa ikut serta dalam berdakwah meski diliputi dengan berbagai kekurangn, saudaraku tidak semua sahabat Nabi, pandai dalam berceramah diantara mereka ada yang membantu dakwah dengan hartanya seperti Usman r.a, ada Ali bin abi thalib yang menjadi sekertaris Rosulullah, dan masih banyak sahabat-sahabat Rosul yang mempunyai cara tersendiri dalam berdakwah.

saudaraku, pada zaman ini kita telah hidup di zaman yang begitu mudah informasi dapat tersebar, dengan ini maka peluang  untuk mengajak masuk kedalam islam untuk saling menasehati terbuka lebar bagi kita. Berikut beberapa ide dakwah dari berbagai sisi kemampuan seseorang.

  1. Penceramah
  2. Penulis
  3. Donatur dakwah
  4. Penyebar tulisan, Vidio dakwah dll

Terlalu banyak peluang dakwah, maka sungguh merugilah bagi kita yang hanya sekedar hidup, makan kemudian mati, tanpa mengecap rasa manis dari pahala dakwah yang Allah telah siapkan.

Saudaraku jadilah bagian dalam dakwah, tak ada seorang yang tak mampu berdakwah, bantulah para penyeru dakwah, sokonglah, ikutalah hingga kelak berkumpul lagi dengan mereka di dalam jannah.

SILATURAHMI HUDA GROUP | MEREKATKAN UKHUWAH MENYATUKAN DAKWAH

Silaturahmi huda group

“Merekatkan Ukuwah Menguatkan Dakwah”

Alhamdulillah akhirnya di Resto Mang kabayan, eco ark park, sentul city bogor, pada hari Ahad 05/NOV/17 kerinduan kami untuk bercengkrama bersama dengan para donatur terlaksana jua, tak sering kami huda group (YHC, al-Huda dan YALIFA) bisa saling mengungkapkan isi hati bersama para donatur yang senantiasa setia dalam membantu menyokong langkah kami dilajur dakwah.

Event Silaturahmi huda group ini adalah event berlanjut dengan sistem mengundang donatur secara bergiliran. Pada Ahad kemarin kami mengundang 30 Donatur pertama, alhamdulillah meski ini adalah acara pertama 12 donatur dapat meluangkan waktunya untuk berbincang bersama di Resto Mang kabayan, eco ark park, sentul city bogor.

Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan kelancaran pada acara Ahad kemarin, para peserta sangat antusias dengan program-program huda group yang telah berjalan terlebih lagi dengan target-target kedepannya yang telah huda group cita-citakan untuk kemajuan agama dan bangsa ini.

suatu kebahagiaan yang sulit kami jelaskan, dapat bersua dan bercengkrama bersama para dermawan yang rela mengorbankan hartanya untuk kemajuan agama ini. Rasa antusias dari para donatur untuk tetap berkomitmen dalam membantu  program-program huda group menjadi penyemangat kami untuk tetap teguh dalam mencapai cita bersama.

Acara seperti ini akan terus kami gulirkan, guna mengikat tali ukhuwah agar terus lekat hingga kelak mengapai bahagia abadi diakhirat. Acara “Silaturahmi huda group ini” insyallah akan konsisten kami adakan setidaknya 2 sampai 3 kali dalam kurun 1 tahun, tentu kedepannya akan lebih banyak lagi donatur yang kami undang dalam acara ini.

‘Ala kulli hal, semoga pertemuan kemarin, dan pertemuan selanjutnya adalah perekat ukhuwah, penyemangat dakwah dan menjadi pertemuan yang kelak kan mempertemukan kita semua di dalam jannah. Aamiin

 

Bantuan Tunai Untuk Pak Arif Rahman Melalui YHC

Sbtu 28 Oktiber 2017, Pagi itu adalah pagi yang indah, sinar matahari masih seperti biasanya menyinari  rerimbun pohon di kaki gunung salak. Namun tak pernah kami kira dipagi seindah itu ada seorang ibu yang tengah kalut diselimuti kesedihan tak mampu membayar biaya rumah sakit untuk perawatan suaminya.

Pagi itu Tim Marketing Online YHC mendapati permohonan bantuan dari seorang ibu rumah tangga yakni ibu Annisa terkait tunggakan dana BPJS.  Ibu Annisa memohon bantuan dana sebesar Rp. 360.000,- untuk melunasi tunggakan BPJS, Ia mengaku sangat membutuhkan pelunasan tersebut untuk membiayai tagihan rumah sakit suaminya yang menderita Meningitis dan Stroke berat di rumah sakit Hermina Jati Negara Jakarta Timur.

Sabtu pagi setelah menerima permohonan tersebut Pukul 09.00 WIB, Tim lapangan YHC di ketuai oleh Ust. Junaedi bergegas mendatangi lokasi perawatan pak Arif di Rumah sakit Hermina – Jakarta Timur.

2 tahun 8 bulan sudah Bapak Arif Rahman menderita 2 penyakit ganas tersebut ungkap Ibu Annisa, hampir 3 tahun beliau tidak mampu menafkahi keluarganya, namun Alhamdulillah beliau dikarunia istri yang sabar bertahan dalam keadaannya sekarang.

Kini pak Arif masih terbaring lemah diatas kasur pasien di rumah sakit Hermina – Jakarta Timur, selang-selang tersambung ke tubuhnya menyalurkan sisa-sisa harapan yang semoga tak lama lagi Allah cabut kepedihan tersebut.

Begini keadaan bapak Arif Rahman sekarang.

“Alhamdulillah, Terimakasih banyak kepada para donatur yang telah membantu meringankan beban kami, semoga Allah memberikan kenikmatan yang berlipat ganda. Aamiin” Ungkap ibu Annisa kepada YHC setelah usai penyerahan bantuan berupa dana kesehatan sebesar Rp. 1.000.000,-.

Kini kegelisahan ibu Ani mulai teredam, kepanikannya mulai tertinggal, senyum sumringah mulai berkembang. Tak banyak memang bantuan yang kita bagi, namun setidaknya harapan ibu Annisa terangkai kembali, percaya masih ada saudara seiman yang kan peduli.

 

Berbagi, membagi kebahagian meringankan penderitaan, menciptakan senyuman meredam kegelisahan. Semoga apa yang kita perjuangkan untuk kebahagiaan terlaksana dan Allah mudahkan, apalah daya kita selain usaha dan tetap teguh dalam menciptakan kebahagian, hanya berharap kepada Allah semoga setiap amalan dan pngorbanan Allah terima sebagai amal kebaikan.

Lebih dekat, mengenal Rasul tercinta

Nyala Pelita di Sahara yang Gulita

Saudaraku pernahkah kita sadar dahulu dunia pernah dilanda awan jahiliyah yang begitu kelam, leluhur yang tak mengenal Tuhannya,  pribadi-pribadi yang tak peduli akan ajalnya. Sadarkah kita, dahulu ada seorang manusia yang menjadi pelita bagi jagad raya, yang kelahirannya meruntuhkan singgasana raja-raja persia, memadamkan Tuhannya umat Majusi yang disebut Api mulia, seorang manusia termulia yang pernah mengutarakan kerinduan pada kita sejak dahulu kala 14 abad silam lamanya.

Beliau Muhammad Salallahu ‘alaihi wassalam, lahir pada tahun Gajah, begitulah umat muslim senantiasa mengingatnya, karena ketika itu adalah tahun dimana kejadian besar terjadi yakni tentara kufar dengan pasukan Gajahnya ingin menghancurkan Ka’bah, kisah ini Allah abadikan dalam surat al-fill. Sedangkan bulannya ada beberapa perbedaan pendapat, ada yang mengatakan Ramadhan ada pula yang mengatakan Robi’ul awal, namun yang lebih kuat adalah bulan Robiul awal. Beliau lahir pada hari senin sebgaimana hadist beliau ketika beliau ditanya mengenai puasa pada hari Senin, lantas beliau menjawab,

“Hari tersebut adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkannya wahyu untukku.” (HR. Muslim no. 1162)

Sedangkan untuk tanggalnya sendiri banyak perbedaan pendapat, ada yang mengatakan tanggal 2, 8, 10 dan 12 dan yang paling masyhur dimasyarakat adalah pada tanggal 12 Robi’ul awal tahun gajah.

Kelahiran beliau adalah penawar bagi kerinduan jagad akan sosok pelita yang kelak meneranginya, kelahiran beliaupun disambut dengan berbagai keajaiban-keajaiban yang merupakan petunjuk dari Allah, bahwa seorang manusia yang akan merubah dunia telah dilahirkan. ketika beliau lahir  ibundanya Aminah melihat beliau memancarkan cahaya yang bahkan sampai ke busrha dan siria, bertepatan dengan itu bangunan-bangunan kokoh kaum kafir runtuh, seperti runtuhnya balkon 10  kerajaan kisra serta padamanya Api Tuhannya orang majusi yang tak pernah padam sebelumnya.

Kelahiran beliau sungguh mendatangkan kebahagiaan yang tiada tara bagi ibundanya, bagi kakeknya dan bagi para kaum Quraisy kala itu, setalah tujuh hari kelahiran beliau maka Abdul Muthalib langsung menggendong beliau masuk kedalam ka’bah dan memohon kepada Allah segala kebaikan untuk beliau, dan disana pulalah beliau diberikan nama Muhammad oleh kakeknya, nama yang membuat orang-orang Quraisy merasa aneh, karena tidak pernah sebelumnya ada orang yang diberikan nama itu ketika Abdul Muthalib ditanya oleh kawan-kawannya beliau menjawab “Aku berharap ia akan menjadi orang yang terpuji baik di dunia maupun kelak di surga.”

Mengenai nama beliau Hasan bin Tsabit berkata, “Sang Khaliq mengambil nama Rasul-Nya dari nama-Nya sendiri. Dengan demikian, sementara Allah adalah Mahmud (terpuji), Nabi-Nya adalah Muhammad (patut dipuji). Kedua-dua kata ini diambil dari akar kata yang sama dan mengandungi makna yang sama pula”.

Maasyaa Allah, tak ada sedikitpun yang Allah lewatkan untuk memberi tanda kepada kita akan kebesaran-Nya, yang senantiasa menuntun kita, memberi kita petunjuk menuju tempat tinggal kita yang sebenarnya “surga”.

Saudaraku seperti yang kita tahu bahwa beliau tidak lama dipangkuan ibundanya setelah beberapa hari beliau dipindah tangankan untuk memperbaik persusuan, selain oleh ibundnya Aminah beliau disusui oleh seorang hamba sahaya yang bernama Suwaibah, selanjutnya beliau di susui oleh Halimah sa’diyah halimah dari suku sa’diyah. Beliau dibawa kerumahnya diperkampuingan yang masih asri, tempat paling baik untuk pertumbuhan fisik maupun bahasa. Dan disanalah banyak sekali kejadian-kejadian yang mengagumkan seperti kisah air susu sebelah kanan halimah yang biasanya tidak ada menjadi begitu penuh ketika Rosul kita yang meminumnya, kesuburan dan ternak Halimah yang bertambah banyak dan berkah, serta kejadian paling mengesankan yakni dibelahnya dada beliau oleh malaikat jibril.

Saudaraku banyak kemualiaan-kemuliaan beliau yang perlu kita ketahui sebagai ummatnya, Dari Jabir bin Abdullah ra, nabi Muhammad saw bersabda: “Saya diberikan lima hal yang tidak diberikan kepada seorang pun sebelum saya;

  • diberi kemenangan dengan rasa takut (yang ditimpakan kepada musuh-musuhku) dalam jarak satu bulan perjalanan,
  • bumi dijadikan tempat shalat dan suci untukku, maka siapa pun di antara ummatku yang mendapatkan waktu shalat hendaklah dia melakukannya,
  • dihalalkan untukku harta ghanimah dan itu tidak dihalalkan kepada orang sebelum saya
  • diberi syafa’at
  • dahulu nabi diutus hanya kepada kaumnya, tetapi saya diutus kepada seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)
  • keutmaan beliau diakhirat antara lain. Rasulullah saw bersabda: “Saya adalah pemimpin anak-anak Adam pada hari kiamat nanti, saya orang pertama yang dibangkitkan dari kubur, dan saya orang pertama yang diberi syafaat (oleh Allah) dan orang pertama yang memberi syafaat (kepada ummat manusia).” (HR. Muslim).

Saudaraku perlu kita yakini Nabi kita adalah manusia, sama seperti kita, Allah mengutus beliau sebagai manusia biasa agar kita mampu meneladaninya, maka ahlak beliau, sifat beliau segala tingkahlaku beliau adalah hal yang perlu ita tiru. Kesabaran beliau, kasih sayang beliau, ibadah beliau adalah panutan kita. Sedangkan segala keajaiban yang diberikan khusus untuk beliau cukup kita imani, sebagaimana keimanan para sahabat Rodiallohu ajmain. Wallohu’alam | Wira Al-Ghoruty.

Kaya Namun Sengsara

 

Kaya bukan untuk Sengsara

“Sesungguhnya, seseorang di antara kalian tidak akan mati kecuali setelah dia mendapatkan seluruh rezeki (yang Allah takdirkan untuknya) secara sempurna. Maka, janganlah kalian bersikap tidak sabaran dalam menanti rezeki.  Bertakwalah kepada Allah, wahai manusia! Carilah rezeki secara proporsional, ambillah yang halal dan tinggalkan yang haram.”

(HR. Al-Hakim; dari Jabir; dinilai sahih oleh Al-Albani)

Mencari Rizki ataupun mencari nafkah untuk mencukupi kehidupan keluarga adalah kewajiban bagi seseorang, namun jika hingga akhirnya melupakan kewajiban yang paling inti yakni beribadah kepada Allah l, lupa kepada Allah l maka tak ada sama sekali faedah yang didapat dari Rizki tersebut, “kaya namun sengsara”.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa kebahagiaan itu “berasal dari hati”, bukan soal harta. Seorang muslim yang senantiasa mencoba untuk menapaki jalan Sunnah akan faham bahwa banyaknya harta bukanlah jalan keluar dari kegalauan hati, namun senantiasa mencoba bersyukur dan Tetap Qona’ah (merasa cukup) dengan apa yang didapat adalah kekayaan yang sesungguhnya. Obat dari kegalauan karena sempitnya hati yang senantiasa merasa kurang.

Rosululloh n bersabda:

“Kekayaan tidaklah diukur dengan banyaknya harta, namun kekayaan yang hakiki adalah kekayaan hati.” (HR. Bukhari dan Muslim; dari Abu Hurairah)

Namun saudaraku, nampaknya keimanan kita masih belum cukup, masih perlu belajar dan pembiasaan dalam berqona’ah. Kita akui diri kita senantiasa merasa kurang, diberi rezeki makan dengan sayur, berandai diberi Ayam, diberi lauk Ayam berandai kalau diberi Kambing, dan seterusnya tak akan pernah habis hingga sampai akhir masih merasa kurang dan merasa miskin.

Saudaraku berapa ribu, bahkan juta dari saudara kita termasuk mungkin diri kita sendiri yang sampai saat ini masih diperbudak oleh harta? berangkat pagi bahkan sebelum subuh bekerja mencari harta, pulang malam dengan keadaan lelah, kemudian istirahat tidur, terus berulang hingga akhir hayat. Tak sedikitpun merasakan kebahagiaan yang pernah dihasilkannya, banyak harta namun sengsara.

Tidak enak tidur karena takut hartanya dicuri, tak mau berbagi karena takut miskin. Tanpa dia sadari harta telah menjadi rajanya dan dia sebagai kacungnya.

Saudaraku Rasulullah n bersabda

“Barangsiapa yang melewati harinya dengan perasaan aman dalam rumahnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan ia telah memiliki dunia seisinya.” (HR. Tirmidzi; dinilai hasan oleh Al-Albani)

Roasulullah n menggambarkan kepada kita, bahwa kebahagiaan itu bukan hal yang sulit, 1. merasa aman tanpa khawatir dengan apapun, 2. Sehat jiwa dan raga, 3. Mendapatkan rizki untuk hari itu.

Merasa Aman tak ada gelisah yakin bahwa Allah l yang akan menjaganya, tidak takut jika harta yang dimilikinya akan hilang, karena telah meyakini jika memang itu kehendak Allah l maka apapun yang diperbuat tak ada daya dan upaya yang bisa menghalanginya.

Sehat jiwa dan raga, Tanpa rasa syukur terkadang kita tidak sadar dengan nikmat sehat kita, sebagaimana Rosululloh n bersabda ada dua nikmat yang sering dilupakan, yakni nikmat sehat dan waktu luang.

Memiliki makanan untuk hari itu, tanpa rasa Qona’ah dengan Rizki yang Allah l beri, maka meskipun seseorang telah Allah l berikan rizki yang mencukupi untuk hari itu, ia takan pernah merasa bahagia. Kunci untuk ini adalah Qona’ah dan yakin bahwa jika hari ini Allah l memberi rizki, maka begitupun dengan esok.

Saudaraku Sifat Qona’ah, Syukur, Tawakal kepada Allah l bukanlah sifat yang muncul dengan sendirinya tanpa keimanan, butuh usaha untuk meraihnya butuh pembiasaan untuk mendapatkannya. Hanya dengan berusaha bersedekah, berusaha husnudzan kepada Allah l setiap hari setiap waktu selama nafas berderu, insyaallah kita akan menjadi hamba yang tawakal serta Qona’ah sehingga kebahagiaan bukan lagi hal yang perlu dicari, namun ia yang menjamu kita setiap hari.

Cukupkan sampai disini saja harta memperbudak kita, mari kita mulai tingkatkan rasa Tawakal, Syukur serta Qona’ah dalam diri sehingga kita akan senantiasa merasa kaya, merasa cukup, bahagia dengan apa yang kita terima.

Memperbanyak dzikir memuji Allah l atas segala nikmat yang selama ini telah Ia berikan kepada kita, Memperbanyak berbagi kepada sesama, mendawamkah sedekah dijalan dakwah sebagai rasa syukur kita kepada Allah l yang telah menuntun kita ke jalan sunnah.

Semoga kita semua diberikan kekuatan oleh Allah l untuk menghadapi ujian harta, semoga yang tengah ada dalam keadaan kurang Allah l tumbuhkan rasa Qona’ah dalam hatinya, dan yang sedang ada dalam keadaan cukup atau bahkan banyak Allah l tumbuhkan rasa syukur dalam hatinya. Aamiin

Peran Pendidikan dan Dakwah dalam Mewujudkan Masyarakat Islami

Pendidikan dan dakwah memang dua aspek yang saling berkaitan satu sama lain. Keduanya berperan penting untuk mencerdaskan kehidupan ummat, bahkan sejarah pun membuktikan bahwa masa kegemilangan Islam diraih dengan berkembangnya dakwah yang begitu pesat sehingga menyebar secara meluas ke seluruh dunia dan tentu di dalamnya pun terdapat usaha pentarbiyahan secara terus menerus yang mendidik umat kepada tauhidulloh yang pada akhirnya terwujudlah salah satu bentuk eksistensi nyata yang dihasilkan dari peradaban emas tersebut. Ya, masyarakat Islami ! Sebuah masyarakat yang menjadikan dakwah sebagai poros kehidupannya. Namun saat ini seakan semuanya surut dilanda badai kejahiliyahan yang tak lelah menggerus akidah kaum muslimin, disisi lain ada pula mereka yang hendak membangkitkan kembali gelora dakwah ini untuk menuju kehidupan yang lebih baik. Sebenarnya hal apa yang luput dari pandangan kaum muslim sehingga pendidikan dan dakwah untuk mewujudkan masyarakat islami belum terealisasikan secara maksimal dan apa saja tantangan-tantangan dakwah yang menjadi penghalang untuk tegaknya misi mulia itu? Pada edisi kolom asatidz kali ini redaksi berkesempatan untuk berwawancara langsung dengan Ustadz. Muhammad Haidaril Iltizam Fatih, M.Pd.I Pemateri Tetap Radio Fajri FM mengenai hal tersebut. Untuk lebih jelasnya berikut petikan wawancaranya :

 

Ada yang mengatakan bahwa seorang Muslim harus menjadikan dakwah sebagai poros hidupnya, tanggapan ustadz?

Kita mengacu kepada firman Alloh Ta’ala dalam QS. Adz-Dzariat [51]: 56 (yang artinya), “Dan Aku (Alloh) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” Ayat ini menunjukan tujuan hidup manusia, dan tentunya untuk mewujudkan tujuan ini Alloh Ta’ala senatiasa mengawal kemurnian syariat-Nya berupa diutusnya para Nabi dan Rosul. Sebagimana firman-Nya pula yang diserukan oleh Alloh Ta’ala kepada kita kaum muslimin dalam QS. An-Nahl [16]: 125 (yang artinya) “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” 

Setelah menyampaikan tujuan kita untuk beribadah, Alloh Ta’ala juga menginformasikan kepada kita sebagai hamba-Nya di setiap kurun atau zaman, bahwa Alloh Ta’ala telah memerintahkan atau mengutus para Nabi dan Rosul agar menyeru manusia yang lainnya untuk berjalan di atas jalan Alloh Ta’ala. Kita juga ketahui bahwa Alloh Ta’ala telah memberikan suatu ketentuan yang membedakan antara satu muslim dengan muslim lainnya dalam hal siapa yang paling baik perkataannya. Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Fushilat [41]: 33 (yang artinya), “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah?” Ini merupakan kalimat retoris yang tidak butuh jawaban. Karena pada hakikatnya tidak akan pernah ada suatu perkataan yang lebih baik selain  perkataan dalam mengajak kepada kebenaran. Maka, inilah dakwah yang selaras dengan tujuan hidup manusia. Yakni, menyeru manusia untuk beribadah kepada Alloh Ta’ala  yang sekaligus merupakan poros kehidupan manusia.

Apa arti pentingnya pendidikan dan dakwah dalam mewujudkan masyarakat  Islami?

Arti penting pendidikan dan dakwah sebagaimana yang kita singgung di atas bahwa Alloh Ta’ala berfirman dalam QS. Fushilat [41]: 33 (yang artinya), “Siapakah yang lebih baik ucapannya dibandingkan orang yang menyeru kepada Alloh?”

Seorang imam yang terkenal, Imam Asy-Syaukani Rohimahulloh mengomentari ayat ini dengan ucapan beliau, “Tidak ada yang lebih baik daripada dakwah dan tidak ada yang lebih jelas menjanjikan metode dan cara kepada manusia untuk merubah suatu keadaan lebih baik kecuali hal itu (dakwah).”

Selain dakwah kepada Alloh Ta’ala ini menjelaskan kepada kita bahwa ketika menginginkan perubahan, maka sebagaimana telah kita ketahui sebelumnya bahwa para Nabi dan Rosul membawa suatu misi agung, yaitu misi dakwah dan diantara bentuk dakwah adalah pendidikan. Sebagaimana yang telah Alloh Ta’ala gambarkan, bahwa Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam diutus untuk mendidik manusia, menta’lim atau mentarbiyah, dan mentazkiah agar manusia yang keadaan sebelumnya jahiliyyah menjadi islami, yang tadinya bodoh menjadi alim dan juga merubah keterpurukan menuju kebangkitan.

Apa parameter yang menentukan suatu wilayah bisa dikatakan masyarakatnya Islami atau tidak?

Yang menjadikan parameter masyarakat Islami atau non Islami di suatu wilayah adalah apakah masyarakat itu dibimbing, dinaungi dan dituntun oleh norma-norma Alloh Ta’ala ataukah tidak?

Ketika suatu masyarakat yang terdiri dari satuan-satuan individu dan kelompok mereka dituntun, dibimbing dan diatur oleh norma-norma Alloh Ta’ala yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Sunnah secara kaffah (menyeluruh) maka inilah yang disebut dengan masyarakat Islami.

Adapun masyarakat yang tidak dinaungi oleh norma-norma Islam yang tidak terkandung di dalamnya Al-Qur’an dan Sunnah maka mereka bukanlah masyarakat Islami, terlepas mereka itu mayoritasnya muslim atau mayoritasnya kafir. Maka, yang menjadi acuan disini adalah hukum apa yang menaungi dan menuntun masyarakat tersebut.

Apa saja tantangan-tantangan dakwah yang menjadikan masyarakat Islami sampai saat ini belum sepenuhnya terwujud?

Beberapa faktor yang menyebabkan kemunduran atau belum juga terwujudnya kebangkitan umat menuju masyarakat Islami yakni umat yang berada di bawah naungan Khilafah Islam ‘ala Minhaj An-Nubuwwah, secara garis besar ada dua faktor yakni faktor internal dan eksternal. Dan faktor yang paling dominan diantara faktor-faktor yang lain secara internal adalah faktor kebodohan, yang mana dari kebodohan ini menimbulkan faktor yang banyak sekali. Mulai dari terjadinya penyimpangan-penyimpangan dan mudahnya musuh-musuh Islam menguasai kita, sampai faktor lain seperti kerakusan dari pemimpin kaum muslimin.

Kemudian faktor yang kedua yakni faktor eksternal. Hal ini sebagaimana kita ketahui bahwasanya permusuhan Iblis dan manusia sudah diproklamirkan semenjak diciptakannya Adam Alaihissalam hingga mereka pun telah merealisasikan permusuhan tersebut terhadap manusia. Setelah manusia diturunkan ke bumi Iblis memanfaatkan para pembangkang dari kalangan manusia itu sendiri dan para pembangkang dari kalangan jin agar senantiasa menjauhkan kita dari penerapan hukum Alloh Ta’ala. Hal ini semata-mata karena orang kafir  tidak akan pernah ridho sampai kita masuk millah mereka.

Bagamana caranya agar kita bisa menjalani aktivitas dakwah namun tak melupakan aspek keduniaan?

Alloh Ta’ala telah memberikan tuntunan kepada kita agar mengejar akhirat. Tapi bukan berarti kita harus meninggalkan dunia. Namun yang benar adalah hidup ini harus senantiasa berada dalam keseimbangan antara mengambil akhirat dan mengambil bagian dari dunia.

Akan tetapi karena kita telah ketahui bahwa akhirat itu lebih utama, tentu kita harus tetap lebih mengutamakan kehidupan akhirat dibanding kehidupan dunia tanpa harus sama sekali melupakan kehidupan dunia yang ketika kita lihat seakan-akan ada pemisah di antara mereka yang mengejar akhirat dan mereka yang mengejar dunia.

Padahal antara dakwah dan dunia bukan berarti harus dipisahkan. Tapi yang tepat adalah harus diselaraskan agar kita senantiasa mendapatkan hidup yang hasanah bagi dunia dan akhirat. Kita juga senatiasa meminta kepada Alloh Ta’ala agar kita diberi kebaikan sebagaimana yang telah Alloh Ta’ala ajarkan.

Maka disinilah kita harus harus cerdas dan mampu menempatkan posisi kita antara meraih kemulian Alloh Ta’ala dan meraih kehidupan yang cukup di dunia. Dan tentunya yang mendasari ini semua adalah ilmu, yakni kemapuan kita untuk membedakan mana yang lebih utama dan mana yang kurang utama. Ini akan membuat kita senantiasa berada di dalam jalur yang telah Alloh Ta’ala  tentukan. Maka sudah seharusnya bagi kita sebagai seorang muslim dan mukmin sejati untuk senantiasa menuntut ilmu, berbuat dengan amal kebaikan, berdakwah, dan bersabar untuk menjalani semuanya. [Red]

Renew Our Life !

Perubahan pasti terjadi pada siapapun, kapanpun dan di manapun, ada di antara kita yang menjadi lebih buruk dan ada pula yang menjadi lebih baik, namun hendaknya kita tidak sibuk dengan masa-masa lalu, solusinya sekarang tinggal bagaimana kita “Renew our life” (perbarui hidup kita)!.

Sobat Huda Cendekia, demikianlah jika manusia mampu mengendalikan diri dan memanfaatkan waktu serta mampu menghadapi segala urusan hidup dengan tanpa menanti orang lain, maka ia akan mampu meraih cita-cita yang ia impikan dan ia akan mampu kembali membangun kehidupannya yang baru. Tidak ada waktu untuk berhenti terlalu lama, karena sesungguhnya waktu memang kerap kali memberikan energi dan semangat kepada pemburu keberanian, dan ia tidak akan pernah sekali-kali menunggu orang yang lumpuh agar bisa berlari. Masa kini adalah waktu yang ada saat ini, maka tidak ada istilah bergerak lamban dan menanti. Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an surat al-Mu’minun Ayat ke 60 dan 61:

“Dan orang-rang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, ,dengan hati yang takut (karena mereka tahu bahwa ) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka. Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan–kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.“

Alangkah indahnya jika manusia selalu memperbaiki kinerja hidupnya setiap waktu, mengintrospeksi diri untuk mengetahui kekurangan dan kesalahan-kesalahan yang ada pada dirinya, kemudian membuat rencana jangka pendek dan jangka panjang agar tidak terjerumus kepada kesalahan yang sama dan hal yang sia-sia.

Sobat Huda Cendekia, Sisihkan waktu untuk memeriksa diri dan membuang hal-hal yang tidak berguna, seperti kebiasaan-kebiasan buruk dan catatan-catatan yang mematikan semangat. Senatiasalah menata diri dengan akhlak islami, menempatkan sesuatu pada tempat yang semestinya dan membuang segala hal yang tidak berguna ke dalam bak sampah kehidupan.

Bukankah kehidupan manusia membutuhkan kreatifitas? Bukankah jiwa membutuhkan penataan setiap waktu untuk mengetahui hal-hal yang tidak beres yang ada pada diri kita, kemudian menyiapkannya kembali?

Sesungguhnya banyak kesempatan yang seluas-luasnya dan selebar-lebarnya bagi diri kita untuk terus memperbaiki jalan-jalankebajikan. Sedangkan di sisi lain pula tersedia pintu rahmat dan ampunan dari Allah SWT atas kesalahan dan dosa kita, juga satu sisi lain kita didorong untuk menjaga kesucian diri.

Mari kita bergegas dari tempat tidur kita untuk menyongsong kehidupan yang baru bersama, perjalanan bersama sang waktu. Sesungguhnya gema kebenaran selalu berkumandang di setiap sudut untuk merubah dan menyadarkan kembali orang yang lengah. [Yog]

Melupakan Kebaikan Yang Pernah Kita Lakukan

Berapa banyak Amal sholeh yang kita kerjakan gugur dikarenakan selalu mengingat-ingat kebaikan yang pernah kita lakukan dan cepat melupakan kebaikan orang lain kepada kita, seorang ulama yaitu Sufyan Ats Tsauri pernah berkata, “Sesuatu yang paling sulit bagiku untuk aku luruskan adalah niatku, karena begitu seringnya ia berubah-ubah.”

Niat yang baik atau keikhlasan merupakan sebuah perkara yang paling sulit untuk dilakukan. Hal ini karena sering berbolak-baliknya hati kita, Terkadang ia ikhlas, di lain waktu tidak. Padahal, sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, ikhlas merupakan suatu hal yang harus ada dalam setiap amal kebaikan kita. Amal kebaikan yang tidak terdapat keikhlasan di dalamnya hanya akan menghasilkan kesia-siaan belaka.

Bahkan bukan hanya itu, bahwa di sebabkan tidak ikhlas terancam menjadi penghuni neraka sebagaimana hadits Rasulullah yang menyatakan bahwa tiga orang yang akan masuk neraka terlebih dahulu adalah “orang-orang yang melakukan amal kebaikan namun bukan karena Allah?. Coba kita bayangkan dan renungkan sejenak bagaimana mungkin seseorang yang melakukan amal sholeh Allah ceburkan kedalam neraka?? ya, di karenakan ia selalu mengingat-ingat dan mengungkit-ungkit kebaikan yang pernah ia kerjakan, sebuah ancaman yang sangat mengerikan, bahkan Allah akan mengazab orang tersebut, karena sesungguhnya amalan yang dilakukan bukan karena Allah termasuk perbuatan kesyirikan yang tak terampuni dosanya kecuali jika ia bertaubat darinya,
Allah berfirman yang artinya,

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisa : 48).

Di antara yang dapat menolong seorang hamba untuk ikhlas adalah dengan memperbanyak berdoa kepada Allah. Lihatlah Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, di antara doa yang sering beliau panjatkan adalah doa:

اَللّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku memohon perlindungan kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan-Mu sementara aku mengetahuinya, dan akupun memohon ampun terhadap perbuatan syirik yang tidak aku ketahui.” (Hadits Shahih riwayat Ahmad)

Nabi kita sering memanjatkan doa di atas agar terhindar dari kesyirikan padahal beliau adalah orang yang paling jauh dari kesyirikan. Inilah dia, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat besar dan utama, sahabat terbaik setelah Abu Bakar, di antara doa yang sering beliau panjatkan adalah, “Ya Allah, jadikanlah seluruh amalanku amal yang saleh, jadikanlah seluruh amalanku hanya karena ikhlas mengharap wajahmu, dan jangan jadikan sedikitpun dari amalanku tersebut karena orang lain.”

Selamat Idul Adha 1436 H

Kala tetesan air mata Ibrahim jatuh menyaksikan keteguhan iman anaknya Ismail, kala itulah sejarah agung tercipta. Pengorbanan.
Ya Allah, jadikanlah setiap helaan nafas kami sebagai bukti cinta kepada Mu, dan pengorbanan kami sebagai bukti kami mendekati Mu.

Kami segenap karyawan Huda Group mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha.

Text Widget

Placerat vel augue vitae aliquam tinciuntool sed hendrerit diam in mattis ollis don ec tincidunt magna nullam hedrerit pellen tesque pelle.